"Contoh Naskah Drama Bahasa Indonesia"
Chalimatus :
Sales.
Della
: Apoteker.
Ayu
: Asisten Apoteker.
Sheril
: Pembeli 1.
Reisa
: Pembeli 2.
Intan
: Pembeli 3.
Adegan
I.
Asisten Apoteker : “Selamat pagi, mau membeli obat
apa bu?”
Pembeli 1: “Kepala saya pusing nih mbak, duh gak kuat
saya mbak.”
Asisten Apoteker : “Ada bu, tapi apa ibu punya merk
obat tertentu?”
Pembeli 1: “Mbak carikan saja obat sakit kepala yang
manjur.”
Asisten Apoteker: “Ada banyak bu, saya ambilkan yang
manjur dibeli ya bu.”
Pembeli 1: “Iya mbak.”
Asisten Apoteker: “Ini bu, obat sakit kepala paling
manjur.”
Pembeli 1: “Ini benar-benar manjur tidak mbak?”
Asisten Apoteker: “Berdasarkan pengalaman obat itu
manjur bu. Bagaimana bu, mau beli berapa? Saya catat sekalian.”
Pembeli 1: “Contohnya siapa saja mbak yang sudah
memakai obat ini?”
Asisten Apoteker: “Kemaren lusa Syahrini mengeluh
sakit kepala lalu saya berikan ini dan efeknya sangat cepat bu.”
Pembeli 1: “Wah Syahrini. Kalau tidak manjur saya
kembalikan ya mbak?”
Asisten Apoteker: “Kalau manjur ibu jadi pelanggan
tetap ya?”
Pembeli 1: “Iya mbak, saya ambil satu box untuk
jaga-jaga.”
Asisten Apoteker: “Ini obatnya. Terima kasih bu
semoga lekas sembuh.”
Pembeli 1: “Iya sama-sama mbak.”
Adegan
II.
Sales : “Selamat siang mbak, bisa bertemu dengan
apoteker penanggung jawab apotek?”
Asisten Apoteker : “Iya siang, tunggu sebentar ya
mbak.”
Lalu asisten apoteker menghampiri apoteker untuk
menemui sales tersebut.
Asisten Apoteker : “Selamat siang bu, ada sales yang
mau bertemu dengan anda.”
Apoteker : “Sales dari PT mana ya?”
Asisten Apoteker : “Saya tidak tahu bu.”
Apoteker : “Baiklah, akan saya temui.”
Sementara sales tersebut sedang menunggu, apoteker
menuju depan toko untuk menemui sales tersebut.
Apoteker : “Ada apa ya mbak?”
Sales : “Ini bu, saya dari PT. Chalfarma mau
menawarkan produk baru kami. Apakah anda berminat?”
Apoteker : “Produk apa ya mbak?”
Sales : “Produk pelangsing herbal.”
Apoteker : “Bisa anda menyebutkan manfaat dan khasiat
obat tersebut, apakah obat ini aman dipakai untuk jangka panjang?”
Sales : “Obat ini dapat melancarkan buang air besar
dan mengurangi nafsu makan, namun mengandung segala apa yang dibutuhkuan oleh
tubuh. Sehingga pasien tidak akan khawatir nafsu makannya meningkat. Obat ini
juga aman digunakan dalam jangka waktu panjang dan aman di konsumsi pria maupun
wanita usia mulai dari 18 tahun .”
Apoteker : “Baiklah kalau begitu, saya ambil 4 mbak.
Dapat bonus potongan harga ya.”
Sales :
“Tenang bu, dalam rangka promo setiap pembelian 2 pcs gratis 1 pcs. Jadi anda
mendapat 2 pak gratis. Ini bu.”
Apoteker : “Makasih ya mbak.”
Sales : “Terimakasih bu, atas kerjasamanya. Kapan
kapan beli lagi ya bu.”
Adegan
III
Pasien : “Mbak, aku ki meh prikso. Iki lo, mbak.
Awakku ki podo gatel – gatel, nggreges karo
sirahku ngelu.”
Resepsionis : “Daftar dulu ya bu, atas nama ibu
siapa?”
Pasien : “Sukijah mbak.”
Resepsionis : “Silahkan tunggu di kursi antrian
sampai nama anda di panggil.”
Pasien : “Oalah, iyo mbak.”
Selang lima menit, nama Ibu Sukijah pun dipanggil. Sukijahhh.
Pasien : “Wah lakuwi rak. Jenengku diundang. Mlebu
neng endi yo mbak?”
Resepsionis : “Mari sini bu, silahkan masuk.”
Pasien : “Matur nuwun nggih mbak.”
Bu sukijah memasuki ruang dokter.
Dokter : “Selamat siang bu, silahkan duduk.”
Pasien : “Matur nuwun dok,”
Dokter : “Keluhannya apa ibu?”
Pasien : “Iki lo dok, awakku ki gatel – gatel teng
nggreges karo sirahku ki ngelu.”
Dokter : “Ibu merasakan gatal-gatal ketika sedang
apa? Atau ketika cuaca dingin?”
Pasien : “Kulo ki gatel-gatel yen udarane atis dok.
Kulo ki ora krasan yen keno AC mengko awakku dadi abang-abang terus gatel-gatel
ngono kuwi lo dok.”
Dokter : “Kalau begitu ibu jangan menggunakan AC
dengan suhu rendah, kalau perlu jangan menggunakan AC.”
Pasien : “Yo maklum dok kulo iki asale soko ndeso
dadine orak kerasan yen kanggo AC.”
Dokter : “Usianya berapa bu?”
Pasien : “Kulo seket tahun dok.”
Dokter : “Baik, ini resepnya silahkan ditebus di
apotek sebelah. Terimakasih dan lekas sembuh ya bu.”
Pasien : “Nggeh dok, matur nuwun.”
Setelah itu, bu Sukijah menuju apotek sebelah untuk
menebus resep yang diberikan oleh dokter.
Pasien : “Mbak, iki aku arep nebus obat. Ndang
gawekna yo mbak.”
Apoteker : “Oh, iya bu. Silahkan ditunggu. Mau puyer
atau kapsul bu?”
Pasien : “Puyer ae mbak, aku ki wis tuo. Rak iso
ngombe kapsul.”
Apoteker : “Baik bu, silahkan ditunggu.”
Sementara resep sedang dibuat oleh apoteker, sang
nenek sedang asik menonton TV yang ada di pojok atas klinik. Setelah lima belas
menit nama Bu Sukijah pun dipanggil. “Sukijaaahh.”
Apoteker : “Silahkan bu, ini obatnya. Diminum
setelah makan 3x sehari. Terimakasih atas kunjungannya dan lekas sembuh ya bu.”
Pasien : “Oh, nggih nggih mbak. Matur nuwun.”
Adegan
IV.
Apoteker: “Selamat sore bu, ada yang bisa saya
bantu?”
Pembeli 3: “Saya mau cari obat buat anak saya, tapi
kardus obat yang gambarnya ada kelinci membawa tameng.”
Apoteker: “Kalau boleh tau anaknya sakit apa ya bu?”
Pembeli 3: “Itu lo mbak anaknya sering capek,
badannya lemes, sering sakit juga.”
Apoteker: “Oh tunggu sebentar ya bu, saya carikan
dulu. Nanti kalau ada jadi dibeli ya bu?”
Pembeli 3: “Iya iya mbak.”
Apoteker: “Ini bu obatnya, mau beli berapa box? Saya
catat sekalian, 2 / 3 box bu?”
Pembeli 3: “1 box aja mbak.”
Apoteker: “2 box aja bu. Yang satu buat persediaan,
apalagi ini lagi musim hujan cuaca gak menentu jadi banyak orang sakit.”
Pembeli 3: “ya sudah mbak saya beli 2 box.”
Apoteker: “Iya sebentar ya bu. Ini obatnya dan
totalnya 70.000.”
Pembeli 3: “Ini mbak uangnya.”
Apoteker: “Makasih bu, semoga anaknya lekas sembuh.”
Pembeli 3:
“Iya sama-sama mbak.”